Aku hanya tak tahu,
Jika gurat keriput di wajahmu tak lagi mengenal malu… Aku hanya jarang memperhatikan,
Kau tak sama,
ketika aku masih sekolah dasar dulu…
Aku masih tak tahu,
Jika usiamu sudah dari setengah abad…
Yang aku harus tahu,
Cintamu padaku pasti lebih besar…
Masih jelas kuingat,
Ketika kau masih ‘muda’ dulu,
Dengan senang hati kau antarkan
dua buah hatimu dengan motor butut,
satu-satunya yang keluarga kita punya,
Menerjang hujan deras sore itu,
demi membawa kami agar mengenal firman-firmanNya…
Masih jelas kuingat,
Kau bahkan tak mengeluh ketika kami masih tak tahu
bagaimana membantumu mencuci motor butut itu…
Kau hanya meminta kami bawakan mantel yang kau pakai
melindungi kami dari hujan deras…
Dan tak hanya hari itu…
Hari demi hari aku belajar banyak darimu…
Semua yang kau korbankan,
Yang sering tak kusadari,
Atau bahkan kusepelekan…
Maka,
Maafkan, putramu, Ayah…
Yang hingga kini belum berikan hal membanggakan,
membahagiakan dalam hidupmu…
Selamat ulang tahun, Ayah…
Semoga rumah yang indah di surga sedang Ia bangun buatmu…
Atas segala jerih payah, pengorbanan, kejujuran, kesetiaan, dan cinta…
Yang entah bagaimana caramu nyatakan pada kami…
Sungguh, aku mencintaimu, Ayah…
Selamat ulang tahun…





0 comments:
Posting Komentar